Hay sobat Rumput Hidup, pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan cerita pengalaman bareng temen temen saya saat di Malang, dalam menerjang dinginnya gurun pasir Bromo di malam hari.

Perjalanan ke bromo ini merupakan salah satu bentuk salam perpisahan saya dengan teman-teman kerja di Malang, yaps karena setelah main ke bromo ini saya sudah nggak kerja lagi alias resign dari tempat kerja karena beberapa alasan, jadi saya ngajakin temen-temen ke Bromo, bukan saya sih yang ngajakin pertama kali maen kebromo. karena sebelumnya Mbak Ana, Mas Pras dan Mas Very sudah ngajakin duluan, hanya saja gagal karena beberapa hal.

Sebelumnya saya sendiri, Mas Very, Mbak Ana dan Ryan sudah berniat maen, pada malam itu bahkan Mbak Ana sudah ada di kantor siap-siap dari kuliah langsung ke kantor untuk persiapan berangkat, namun setelah beberapa lama, saya dan mbak Ana menunggu Mas Very yang ternyata nggak bisa karena ada halangan ada kepentingan dengan Isterinya, jadi nungguin si Ryan, namun rasanya saya sudah nggak enak kalau cuman bertiga, Ryan yang ditunggu-tunggu pun nggak dateng-dateng, jadi setelah agak lama menunggu, waktu juga semakin larut, jadi saya menyilahkan mbak Ana untuk pulang, biar nggak tidak terjadi sesuatu yang nggak diinginkan pula, saya juga nggak enak kalau di kantor ada perempuan sendirin. Akhirnya setelah beberapa menit kemudian mbak Ana memutuskan untuk pulang (walau dengan kecewa sih, bukan karena tak suruh pulang, tapi karena nggak jadi ke Bromo wkwk)

Baca Juga : Pertama Kali Muncak di Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Setelah beberapa hari kemudian saya mengajak mereka kembali maen ke Bromo, dan Alhamdulillah yang kedua kalinya tidak ada halangan, mungkin ada sih hanya saja masih bisa di kendalikan.

Walau dari beberapa teman saya yang ikut hanya Mas Very, Mas Yansah, Mas Pras, Saya Sendiri ples Mbak Anak. Tapi tidak membuat niat main ke Bromo kali ini gagal, justru saat berangkat ke bromo yang seharusnya pagi kami berlima malah berangkat pukul 09.00 malam saking semangatnya hihi…

Kami berlima berangkat dari Sawojajar, adalah tempat alias lokasi kami bekerja, sekaligus tempat saya tidur. Kami berangkat menggunakan 3 motor diantaranya dua motor trail yang dinaiki Mas Very dengan Mas Prass, kemudian Mas Yansah yang membawa Motor Sendiri, dan motor trail satunya ditumpangi saya dengan membonceng Mbak Ana, walau dalam hati saya agak keberatan sih harus boncengin perempuan :(, tapi ya mau bagaimana lagi, mau di bonceng Mas Very dia sudah beristri, Mau dibonceng Mas Prass dia nggak bisa naik motor trail, mau dibonceng Mas Yansah….. dia malah awalnya agak susah di ajakin, jadi mau nggak mau ya saya harus bersedia untuk membonceng Mbak Ana.

Malam itu kami sudah berkumpul dari sore, Mas Yansah dan Mas Prass malah nggak pulang dulu kerumahnya, kalau saya sih tidurnya di kantor jadi ya cuman nungguin mereka. Dan mas Very datengnya setelah Isya, juga Mbak Ana. Kebetulan malam itu ada yang mau sewa motor jadi kami menunggu sampai urusan sewa menyewa selesai. Setelah selesai, tanpa persiapan matang, diantara kami berlima yang mempersiapkan diri cukup matang cuman Mbak Ana, lainnya termasuk saya asal-asalan, dikiran nanti cuaca saat di bromo biasa aja, nggak taunya :v

Tepat, pukul 9 malam kami berangkat, dari sawojajar bergerak menuju Tumpang, salah satu jalan menuju pegunungan bromo. Sesampainya disana kurang lebih pukul 10an malem lebih lah, kami berhenti disebuah tempat makan, tempat makan ini milik temennya mas Very jadi kami bebas disana, ditraktir pula hehe…

Karena kami masih kesorean berangkatnya, jadi kami memutuskan untuk bermalam disana, temen-teman sih awalnya agak susah tidur, tapi akhirnya mereka bisa tidur, entah tidur beneran atau tiduran saja. Kalau saya dari awal berangkat memang sudah nggak ngantuk, jadi dari pagi sampe paginya lagi ketika berangkat ke bromo saya nggak tidur sama sekal

Baca Juga : Pengin Jadi Fotograffer dan Traveller

Naah pada saat sudah pukul 02.30 saya bangunin beberapa temen yang masih tidur, mengingatkan sebentar lagi sudah saatnya berangkat. Setelah beberapa menit kemudian kami bersiap berangkat dengan badan bergetar semua wkwkw. Sebenernya ini awal dari kami berlima ke Bromo, jadi jalan menuju arah bromo juga nggak tau. Apalagi kami berlima berangkat pagi sekali sehingga masih gelap dan tidak tau arah. Akhirnya kami hanya mengikuti jalan saja, karena memang jalurnya cuman satu wkwkw

Akhirnya kami sampai di gerbang pembelian tiket, salah satu dari kami membeli tiket dan melanjutkan perjalanan. Tidak lupa saya beli sarung tangan dulu, walau sarung tangannya bolongannya lebar-lebar sih, tapi lumayan lah untuk menetralisirlah.

Selanjutnya kemi melanjutkan perjalanan, mengikuti jalan yang berliku-liku, kadang saya hampir terjatuh, karena di malam hari pandangannya agak terbatas, jalanan juga naik turun. Walau pada akhirnya kami sampai di sebuah persimpangan, sebuah jalan arah menuju Bromo dan Semeru. Salah satu dari kami bertanya pada orang yang berjualan sarung tangan juga topi arah ke bromo. Setelah mengetahui arah ke bromo kami melanjutkan perjalanan. Tepatnya kami sudah dekat sekali dengan bromo, waktu itu kami menuruni bukit, dan saat menuruni bukit cuaca semakin dingin semakin menyengat merasuki tulang belulang, sampe tulang rusuk pula, untung tulang rusuk satunya nggak ikut wkwk.

Setelah selesai menuruni bukit, sampailah di gerbang perbatasan antara jalan aspal dan lautan berpasir. Nah disinilah petualangan di mulai. Jatuh bangun dilautan pasir berkali-kali yang tentu saja semakin membuat perjalanan ini memiliki sebuah cerita yang seru. Selain seru, disini pula perjalanan paling lama di tempuh.

Selama di padang pasir bromo, banyak sekali rintangannya, mulai dari kedinginan, arah jalan kemana nggak tau, terus motor mas yansah kehabisan bensin yang membuat perjalanan terhenti sejenak, hingga berkali-kali terjatuh, terlempar hingga terbanting ke lautan pasir hehe.

Salah satu yang menegangkan adalah ketika saya merasa kedinginan. Waktu itu saya sedang membonceng Mbak Ana, sesampainya di padang pasir dini hari itu membuat saya kedinginan, mati rasa, tangan, kaki hingga wajah saya terasa membeku, bahkan saat bicara pun agak sulit. Untungnya pernafasan saya masih terjaga dan masih stabil. Soalnya mengingat pendakian pertama kali di gunung lawu waktu lalu membuat pernafasan saya sedikit terganggu, dan mengakibatkan saya hampir pingsan. Tapi Alhamdulillah ketika di bromo ini hanya kedinginan saja tidak sampai mengganggu pernafasan saya.

Kedua adalah ketika motor mas Yansah kehabisan bensin wkwk. Ini sih gimana gitu rasanya, antara lanjutin perjalanan atau nungguin matahari terbit di tengah-tengah padang pasir gunung bromo, ditemani dengan selimut embun yang menusuk tulang belulang. Sejenak kami berhenti dan memikirkan cara bagaimana cara untuk mengisi bensin mas Yansah, pertama nekat lanjutin perjalanan, tapi tidak mungkin karena bensin akan habis sebelum naik untuk sampai di penjual bensin eceran, atau kembali ke warung tadi tempat menginap, namun tentu saja jaraknya lebih jauh dan ini jauh lebih tidak mungkin dilakukan, dan selanjutnya, menunggu hingga matahari terbit di tengah gurun, hmm tentu saja ini juga pilihan yang tidak mungkin.

Setelah beberapa lama menunggu, dan banyak sekali jeep yang lewat, kami berinisiatif untuk meminta bantuan ke jeep yang lewat. Yaps mungkin saja mereka membawa persedian bensin, walaupun saya sudah mengira nggak mungkin sih. Akhirnya Mbak Ana, Mas Very dan Mas Yansah menstop satu persatu jeep yang lewat dan meminta bantuan apakah mereka membawa persedian bensin. Namun dari sekian jeep yang lewat nggak ada satupun diantara jeep tersebut yang bisa membantu, bukan karena nggak mau bantuin kami sih, mungkin karena memang mereka nggak bisa bantu.

Setelah berusaha cukup lama, akhirnya ada pasangan yang mungkin aja sih suami istri yang masih mudah sih, mereka berdua menaiki motor trail dan bersedia membantu kami untuk membagikan bensin yang ada di tangki motor mereka.

Setelah mereka merapat ketempat kami akhirnya mereka mulai membantu. Namun masalahnya ada satu lagi, bagaimanakah caranya menyalurkan bensin dari tanki satu ke tanki lainnya. Kami semua kembali berfikir memikirkan cara tersebut, setelah itu akhirnya si Mas yang memutuskan untuk menolong kami kami tersebut, memiliki ide yakni memotong selang saluran pembuangan bensin dari motornya. Walau agak sulit di lakukan namun setelah berusaha agak lama akhirnya bisa di potong dan bisa digunakan untuk memindahkan bensin.

Kemudian, setelah itu adalah tugas Mas Very dalam menyedot bensin dari tangki dan memindahkannya ke dalam botol untuk dimasukkan kembali kedalam tanki motor mas Yansah. Karena awalnya Mas yang mau bantu nggak bisa dan kesusasahan akhirnya mas Very turun tangan menanganinya walau setelah itu hampir mutah mutah sih wkwkw :v

Baca Juga : Belanja di Toko Online Saya Yuk Sobt

Setelah bensin sudah bisa dipindahkan kemotor mas Yansah, kami semua lanjut perjalanan dan rombongan kami yang awalnya berlima bertambah menjadi 7 orang ketambah Mas dan Mbak yang dua duanya nggak ada yang tau namanya, walau sudah bersedia menolong suka rela, kami berlima lupa berkenalan dengan mereka. Setelah perjalanan sudah hampir sampai dan matahari menandakan akan terbit, kami terpisah dari kedua orang tersebut (orang yang membatu kami) karena kami semakin kesulitan melalui track berpasir yang membuat kami terjatuh berkali-kali. Bahkan Mbak Ana yang saya bonceng sudah tidak terhitung berapa kali terjatuh dan saya jatuhkan ke Pasir.

Akhirnya kami terpisah dan memutuskan untuk mencari jalur sendiri, karena diantara kami berlima tidak ada yang pernah ke Bromo lewat jalur Poncokusumo sebelumnya jadi kami bingung mau kearah mana, terlebih saat itu kabut tebal sekali sehingga jarak pandang sangat terbatas, kalau perkiraan saya sih nggak sampe 5 meter. Bahkan lampu motor tidak sanggup menembus kabut embun yang dingin.

Ditengah ketidak tahuan kami akhirnya ada penyedia jasa yang menyediakan menunjukkan arah jalan untuk sampai di tempat dimana menikmati sunrise yang indah, namun jalan yang dilalui sangat mudah. Akhirnya kami memutuskan menyewa jasa tersebut, walau mahal sih, tapi dari pada nggak bisa menikmati indahnya terbitnya sunrise yang bisa menyapa kita di pagi hari, kenapa tidak :v

Foto Bareng Dulu

View this post on Instagram

#bromo #gunungbromo

A post shared by Muhammad Reza Ichsani (@ichsani.id) on

Nah itu teman saya yang ikutan maen ke Bromo, saya kenalin satu-satu ya, dari yang di depan sendiri, yang gitu lah pokoknya itu namanya Mbak Ana, kemudian di belakangnya (dari kanan) Mas Prass, Sebelahnya Mas Very, Sebelahnya lagi Saya yang ganteng :v dan sebelahnya lagi paling kiri Mas Yansah.

Silahkan boleh kenalan satu-satu, kali saja ada yang mau, dengan salah satu dari mereka. Kecuali saya, kalau mau kenalan sama saya syaratnya harus… (hiden)

Menikmati Sunrise Dulu Donk

Nah setelah kami menyewa penunjuk arah, akhirnya sampailah kami di tempat menyaksikan sunrise yang indah, nama tempatnya saya lupa, karena memang nggak pernah kesana sebelumnya. Tapi view nya nggak kalah menariklah dibanding dengan view sunrise lainnya.

Kami disana istirahat sambil menikmati pemandangan terbitnya sunrise sambil sesekali foto foto bareng. Setelah beberapa lama beberapa temen saya ada yang foto selfi, cari makan, cari WC pula :v dan mas Very memilih tiduran hingga tidur beneran di semak-semak, dan saya yang terduduk juga ketiduran karena dari kemaren paginya hingga pagi hari ini nggak tidur, sehingga membuat saya tidur di semak-semak pula wkwkw

Setelah lama sekali saya tertidur dan ketika saya terbangun, kami memutuskan untuk pulang, sebelumnya tapi mampir dulu beli makanan buat ganjal perut yang sudah menjerit minta makan. Setelah makan selesai kami menuruni bukit bersama, sayangnya Mas Very yang memimpin salah dalam memilih jalur pulang, dia malah menuju arah ke Lumajang, dari awal saya sudah mengira kalau jalur pulang salah, tapi mereka nggak kedengeran saya teriak-teriak jadi ya saya biarin sampe akhirnya saya salip mas Very dan memberitahunya kalau jalur pulang adalah arah sebaliknya hahaha.

Nah setelah itu kami putar balik, dan memutuskan untuk pulang dan kembali lagi ke rumah masing-masing. Teman-teman sih pulang ketempat nya masing-masing tapi saya mah setelah itu kebetulan langsung resign dari kerja dan kemudian lansung lanjut ke Surabaya untuk perjalanan selanjutnya mendaki Gunung Lawu. Jadi waktu itu dalam dua hari saya ke dua gunung sekaligus, sebuah petualangan Bomo – Lawu, yang akhirnya membuat badan saya remuk semua setelah itu :v

yaa itu aja sih, semoga bisa menjadikan sebuah cerita yang menginspirasi. Jangan lupa baca juga cerita pendakian di gunung lawu saya yang kedua kalinya setelah pendakian pertama gagal, InsyaaAllah akan saya posting besok atau nanti.

Terima Kasih :v

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here