Home Travelling Pendakian Puncak Gunung Lawu

Pendakian Puncak Gunung Lawu

44
0

Nah kali ini saya akan bercerita tengan pengalaman saya saat mendaki gunung lawu untuk yang kedua kalinya, setelah pendakian pertama di gunung lawu gagal karena ada badai.

Pendakian yang kedua ini cukup melelahkan, karena sebelum mendaki disni sehari sebelumnya saya sudah jalan-jalan di gunung bromo bareng temen-temen di Malang. Setelah pulang dari bromo, sore harinya langsung menuju terminal surabaya, dari terminal surabaya langsung menuju ngawi. Setelahnya setelah bermalam di ngawi langsung menuju magetan ke Gunung Lawu via cemoro sewu.

Sama seperti pendakian sebelumnya yang gagal, jalur yang saya tempuh adalah melalui jalur cemoro sewu, karena memang taunya dari jalur situ.

Sebelum itu kami berdua mempersiapkan dulu bekal-bekal yang akan dibawa disana, seperti perlengkapan mendaki, perlengkapan untuk logistik alias makanan untuk kebutuhan selama muncak dan kebutuhan lainnya, seperti tenda dll, hanya saja satu hal yang fatal saya biarkan terjadi, yaitu saya nggak bawa sleepingbag.

Saya dan teman saya waktu itu dari ngawi berangkan ke lawu pada pagi hari, nyampe di cemoro sewu sekitar waktu dhuhur, kami berdua sholat terlebih dahulu, persiapan dan kemudian berangkat. Tidak lupa sebelumnya jika mau ndaki untuk mengisi formulir dulu ya sobat, biar kita menjadi pendaki yang mentaati peraturan hehe walau saya sendiri kadang sih suka nerobos jalur pendakian wkwk.

Baca Juga : Jatuh Bangun Menerjang Dinginnya Gurun Pasir Bromo di Malam Hari

Nggak terlalu banyak cerita sih selama di perjalanan cuman ngobrol nggak penting aja sih, terus juga suka ketemu dengan pendaki lain yang saling menyapa dan kadang kenalan dll.

Waktu yang kami tempuh untuk mencapai puncak ini cukup lama buanget, soalnya kami berangkat habis dhuhur dan hampir nyampe puncak itu tengah malem wkwkw. Padahal perjalanan umumnya cuman beberapa jam saja, itu karena kami dikit-dikit cerita, melamun, anu, anu dan anu anu lainnya.

Kenapa saya bilang hampir sampe puncak di tngah malem? ya karena jarak puncak masih lumayan jauh, dan karena sudah tengah malem kami bermalam disebuah warung terakhir kedua sebelum warungnya Mbok Yem, diwarung itulah kami bermalam dan tidur dengan para pendaki lainnya. Dan disinilah saya menyesal karena nggak bawa sleeping bag, karena memang nggak punya sih, jadi satu sleepingbag dijadikan untuk berdua wkwkw.

Dan ketika saya tidur, kata temen saya yang sudah biasa mendaki tersebut, badan saya terus-terusan bergetar, mungkin di kira saya nggak sadar ketika sedang bergetar seperti diguncang gempa. Padahal saya nggak bisa tidur kedinginan, mau melek saja ogah, mau gerak juga males sudah terlalu fokus dngan badan yang kedinginan, bahkan ketika teman saya bangun dan menyelimuti saya sebenernya saya nggak tidur. Cuman mau bilang ke dia kalau saya sedang kedinginan saja saya sudah tidak sanggup. Jadi mau nggak mau ya saya harus menikmati kedinginan walau sebenernya nggak nyaman untuk dinikmati, ya salah saya sendiri sih nggak bawa sleeping bag.

Di pagi harinya, saya baru bisa tertidur dengan tetap bergetar alias menggigil, terdengar suara adzan dari lereng dibawah gunung, tapi saya masih nggak kuat kedinginan. Akhirnya saya tertidur lagi dan bangun saat sunrise sudah membentangkan sinarnya, saya langsung buru-buru keluar untuk bertayammum untuk sholat subuh. Dan karena saking dinginnya saya bertayammum pun salah urutan :v

Setelah itu kami sholat berjama’ah berdua dengan arah yang nggak tau itu kiblat atau selatan.. dari pada nggak sholat sih

Baca Juga : Pertama Kali Muncak di Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Setelah itu, kami istirahat sejenak menikmati keindahan sunrise, sambil minum anget-anget (kopi, teh, kuah dll) setelahnya langsung kami bergegas dan siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Jaraknya sebentar sih, cuman beberapa menit saja dari warung tempat saya camp dan warung Mbok Yem, dari warung Mbok Yem inilah puncak sudah terlihat jelas, walau terlihat jelas dan deket banget, namun saat menapaki bebatuan bercampur tanah ternyata cukup lama, hingga akhirnya sampailah di puncak.

View this post on Instagram

Ojo gLau to nak 😄😄

A post shared by Muhammad Reza Ichsani (@ichsani.id) on

itu captionnya sudah expired, jadi jangan di permasalahkan :v

Tidak lupa foto-foto dulu disana, itu sih sebagian sedikit dari foto-fotonya, karena lainnya banyak yang terhapus. Setelah beberapa jam diem dipuncak sambil, makan-makan, minum-minum, melamun, loncat-loncatan, menikmati keindahan bukit, awan yang sedang berjalan-jalan, melihat bentangan kota magetan, memandangi jajaran gunung Merapi, Merbabu dan gunung-gunung lainnya disebelah ujung barat hingga gunung-gunung di sebelah ujung timur semuanya menjulang, seperti ingin menyapa saya hehe.. udah gitu aja sih saat di puncak, habis itu turun.

Sudah selesailah perjalanannya….

Kami pun kembali pulang ke ngawi, dan esoknya kami berdua kembali ke Surabaya, dan saya ke Jember, nyampe Jember nganggur, dan Alhamdulillah kini saya sedang belajar di Pesantren Sintesa Badrussalam, di Magetan. Harapan kedepannya bisa sukses, jadi traveller dan bermanfaat..

Terima Kasih

Wassalamu’alaikum…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here