Home Travelling Pertama Kali Muncak di Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Pertama Kali Muncak di Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

30
0
pendakian gunung lawu via cemoro sewu

Pendakian Gunung Lawu – Hay sobat Rumput Hidup jumpa lagi dengan saya, kali ini saya akan kembali bercerita tentang pendakian pertama kali di gunung lawu, kenapa saya sebut bercerita kembali? yah karena sebelumnya saya sudah pernah bercerita di web pribadi saya di Ichsani.com Sobat bisa baca-baca juga disana.

Gunung Lawu merupakan sebuah gunung yang terletak diantara kedua propinsi di pulau Jawa, yakni berada di antara Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah. Gunung lawu memiliki ketinggian puncak 3.265 MDPL. Gunung lawu juga berada di tiga kabupaten yakni kabupaten Karanganyar, Ngawi dan Magetan.

Langsung saja lah, Nah jadi waktu itu saya bertiga bareng dengan si Dawang dari Klaten sekaligus teman saya di Yatim Mandiri, dan Mas Andy dari Ngawi yang kebetulan suka muncak alias mendaki gunung, dari dialah saya terdroktrin pengin jadi pendaki…wkwk

Sebenernya ini adalah pendakian yang bisa disebut gagal, atau lebih tepatnya nggak sampe ke puncak. Ini dikarenakan karena saat sampai di Pos pendakian terjadi badai di sana, sehingga pos pendakian di tutup untuk sementara waktu.

Baca Juga : Pengin Jadi Fotograffer Sekaligus Traveller

Waktu itu kami berangkat dari Surabaya ke rumah mas Andi di Ngawi, dan bermalam selama semalam disana. Kemudian di pagi harinya kami pergi mencari tempat sewa tas dan perlengkapan alat untuk mendaki lainnya. Karena saat itu yang punya alat ndaki cuman Mas Andi yang lainnya belum persiapan, karena memang awal pertama kali muncak.

Setalah sampai sore mencari perlengkapan, Alhamdulillah bisa nemu semua dan lengkap ples dengan harga wkwkw (nggak murah sih harganya, tapi saya nggak bayar apa2)

Setelah selesai mencari peralatan, di sore hari setelah sholat ashar kami start berangkat dari Ngawi menuju Pos Pendakian via Cemoro Sewu. Sampai di Cemoro Sewu kira kira jam berapa ya, pokoknya sudah malam tiba, dan selama perjalanan di kaki gunung memang sudah terjadi badai ringan, sesampainya di Pos Pendakian, uwwwiiihh badainya menjadi-jadi, sampe – sampe saya berfikiran ini mending kemaren saya nggaak ngikut muncak saja, yang ada nanti kalau diterusin cuman pulang nama doank.

Karena sudah malam, akhirnya saya dan teman-teman berteduh dari badai di sebuah musholla yang ada di deketnya Pos pendakian Cemoro Sewu. Kurang lebih disana cuman ngobrol-ngobrol bareng beberapa orang yang salah satu diantaranya bernaman Mas Gum-Gum, dan beberapa orang lainnya, sambil masak kecil-kecilan, bikin kopi, teh dan lain-lain.

Setelah waktu terasa lebih larut akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk tidur di musholla dengan badai yang masih berlangsung. Setelah kami tertidur semua, Pas saat jam 9 malam tepatnya kami pindah di Pos Pendakian, karena badainya semakin menjadi membuat tidur di musholla terasa sangat dingin. Ketika itu ada sepasang suami istri (mungkin) yang masih muda, juga sedang kedinginan, mereka berdua tidak memakai jaket hanya baju biasa, jadi kami ajak mereka berdua tidur di Pos Pendakian untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi menyerang kesehatan mereka berdua.

Waktu itu saya sudah hampir nggak bisa nafas saking dinginnya, bahkan saya berfikir seperti sudah akan mati rasanya.

Akhirnya kami semua tertidur di Pos Pendakian, setelah sampai pagi kami bangun dan menunaikan sholat subuh, walau telat sih subuhannya. Tapi bagaimanapun juga tetap harus dikerjakan untuk menunaikan sholat subuh.

Baca Juga : Belanja Di Toko Online Saya Yuk Sobt

Dipagi hari itu badai masih saja menerjang, saat pagi sih anginnya masih agak bersahabat namun tetap saja menakutkan. Pos Pendakian pun ditutup sementara, namun ada juga beberapa pendaki yang masih nyelonong saja nerobos masuk jalur pendakian.

Karena memang gak ada penjaganya sih, jadi ya bebas mau masuk atau nggak. Selain ada beberapa yang masuk nerobos mendaki, adapula yang sudah turun, baik yang sudah nyampe dari puncak ataupun hanya setengah perjalanan saja.

Ada beberapa rombongan yang terdiri dari Bapak-bapak tua, Ibu-ibu dan Anak-anak juga yang sudah muncak sebelumnya, sekitar ada 40an orang lah kurang lebihnya. Menurut informasi dari Ibu-ibu yang berbincang dengan kami, badainya memang sangat besar, tapi saat sudah sampai dipuncak anginnya diatas jauh lebih stabil dibandingkan dilereng.

Nah karena hal itulah kami juga maksa nerobos masuk pendakian, walau melalui jalur pendakian tidak resmi.

Setelah beberapa lama kami berjalan, badainya terasa semakin menakutkan sehingga membuat kami berfikir dua kali untuk melanjutkan, karena kami lebih mementingkan keselamatan akhirnya kami semua memutuskan menggagalkan pendakian sementara, akhirnya kami turun lagi dan memutuskan pulang.

Saat perjalanan pulang, dan hampir sampai ke bawah lereng, sudah naik sepeda motor, kemudian dibawah kok rasanya nggak ada badai, jadi kami putuskan untuk melanjutkan pendakian kembali wkwkw

Akhirnya setelah turun ke lereng, kami memutuskan kembali lagi ke pos pendakian. Nah selanjutnya kami lebih serius mendakinya walau melalui jalur tidak resmi.

Fix sudah beberapa menit kami berjalan, bertemu beberapa orang juga yang sudah dari puncak terlebih dahulu. Menurut info dari beberapa pendaki yang sudah dari puncak, angin disana sih stabil saja, cuman pesen mereka hanya menyuruh kami untuk berhati-hati.

Akhirnya kami sampai di Pos 1. Kami berhenti sejenak disini, membeli makanan, gorengan di warung nya Mbok siapa gituh saya lupa namanya, agak lama sih disini, soalnya sambil ngobrol dengan pemiliki warung. Kebetulan pemilik warungnya lagi beres-beres dan mbenerin warungnya yang terkena terjangan badai semalam, yang mengakibatkan atap warung tersebut melayang lepas dari bangunannya.

Mereka juga berpesan supaya hati-hati, kalau memang kami mau melanjutkan ya monggo pesannya, tapi kalau bisa mending di pending, nunggu bulan yang tepat, mereka berpesan sebaiknya ketika kesana, antara bulan januari karena cuaca disana akan lebih stabil. Karena saat itu memang musim hujan jadi sering terjadi badai.

Baca Juga : 10 Kuliner Khas Kota Malang Yang Perlu Sobat Cobain

Setelah beberapa menit kami mendaki di sana, perjalanan kami teruskan dari pos 1 menuju pos 2. Lumayan jauh sih, kami terus melanjutkan perjalanan ke pos 2, sayangnya semakin kami mendaki, udara semakin dingin, dan badai semakin menjadi, bahkan disekeliling kami sudah tidak terlihat apa-apa hanya gumpalan embun dingin yang meniup kencang seperti salju.

Karena waktu itu diantara kami bertiga, saya dan satu teman lainnya adalah pendaki pemula, akhirnya kami memutuskan untuk menggagalkan pendakian ini.

Yaps digagalkan, saya sih bersyukur digagalin, soalnya memang menakutkan jika diteruskan. Akhirnya dengan perasaaan antara senang dan menyesal kami berjalan menuruni lereng untuk pulang menuju rumah.

Akhirnya kami bener-bener pulang dan nggak balik keatas puncak lagi selama 1 tahun, yah begitulah ceritanya. Nggak seru sih tulisan saya ini tapi ini sih cuman nulis catatan pendakian saya dan teman-teman saja untuk pertama kali mendaki.

Setelah setahun menunggu akhirnya saya dan teman saya bisa mencapai puncak lawu, hanya saja cuman berdua, karena teman satunya sudah tidak bersama kami waktu itu. Untuk cerita selanjutnya akan saya lanjutkan menulisnya di postingan berikutnya.

Terima kasih :v

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here